UJI ASAM AMINO DAN PROTEIN

JURNAL PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK II


DISUSUN OLEH :

KHUSNUL KHOTIMAH (A1C118039)

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. Syamsurizal., M.Si



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020

I. Judul : Uji Asam Amino dan Protein

II. Hari/Tanggal : Jumat/ 18 Desember 2020

III. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :

  1. Dapat mengetahui gugus asam dan amina pada asam amino dan protein.
  2. Dapat mengenal uji kimia yang dapat membedakan antara asam amino dan protein
  3. Dapat membandingkan sifat-sifat golongan primer alami (protein) dengan monomernya yaitu asam amino
  4. Dapat mempelajari beberapa bahan makanan yang mengandung protein dan asam amino
  5. Dapat menentukan reaksi koagulasi protein
  6. Dapat menentukan reaksi protein dengan logam-logam berat
IV. Landasan Teori
Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat, molekul, protein mengadnung terpor belerang dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga. Protein yang ditemukan kadang-kadang berkonjugasi dengan makromolukel seperti lipid, polisakarida dan mungkin fosfat. Protein terkonjugasi juga dikenal dengan nukleoprptein, flavoprotein dan glikoprotein. Protein yang diperlukan organisme dapat diklasifikasikan menjadi 2 goongan utama ialah pertma protein sederhana yakni protein yang apabila terhidrolisis hanya menghasilkan asan amino dan yang kedua adalah protein terkonjugasi yakni protein yang dalam hidrolisis tidak hanya menghasilkan asam amino namun menghasilkan juga komponen organik ataupun komponen anorganik yang disebut gugus protestic (Tim Penuntun Kimia Organik II, 2020).

Uji kualitatif protein dapat dilakukan dengan metode biuret, dimana metode ini bertujuan untuk mengetahui adanya ikatan peptide. Dalam hal ini, protein akan bereaksi dengan NaOH dan CuSO4 yang ditandai dengan terbentuknya warna biru lembayung sampai ungu. Sehingga uji ini akan memberikan hasil yang positif apabila terbentuknya larutan berwarna biru lembayung sampai ungu (Bakhtra, 2016).

Asam amino adalah senyawa organik yang mengandung gugus amino (NH2) dan gugus asam karboksilat (COOH). Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus, yakni gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H) dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga rantai samping yang dapat membedakan antara satu asam amino yang satu dengan asam amino yang lain (Suprayitno dan Sulistiyati, 2017).

Reaksi yang paling penting pada asam amino ini adalah pembentukan ikatan peptide. Yang mana prinsipnya yaitu pembentukan peptide ini ialah menggabungkan gugus amino dan juga gugus karboksil dari 2 asam amino dengan menghilangkan satu molekul air. Unsur asam amino penyusun peptide ini biasanya disebut juga dengan residu asam amino. Peptide yang terdiri dari 2 asam amino ataupun lebih, antar residu asam amino yang dikaitkan dengan ikatan peptide atau amida. Untuk penamaan peptidanya dipedomani berdasarkan banyaknya residu, bukan dari banyaknya ikatan peptide, contohnya, peptide yang disusun dari 3 residu maka disebut dengan tripeptida (Sugiyono, 2004).

Protein terdapat di dalam semua sistem kehidupan dan merupakan suatu komponen seluler utama yang menyusun Saluran setengah dari berat sel setiap sel mengandung beberapa protein yang khas bagi sel tersebut sebagian besar protein disimpan di dalam jaringan otot dan beberapa protein organ tubuh lainnya sedangkan sisanya terdapat di dalam darah protein tersusun atas Asam Alfa amino susunan kimianya mengandung unsur seperti yang terdapat dalam asam Alfa amino penyusunnya yaitu karbon oksigen hidrogen nitrogen asam asam kuat yang didalamnya bahkan Keraton protein menyebabkan suatu denaturasi irreversible protein selain penambahan asam kuat dapat dilakukan pengecekan penyebab larutan protein sehingga menyebabkan protein itu denaturasi (Kahli, 2009)


V. Alat dan Bahan
5.1 Alat

  1. Tabung reaksi
  2. Pipet tetes
  3. Termometer

5.2 Bahan
  1. Albumin 5%
  2. HCl pekat
  3. HNO3 pekat
  4. NaOH pekat
  5. HCl 10%
  6. NaOH 10%
  7. CuSO4 10%
  8. AgNO3 1 %
  9. Albumin telur
  10. Asam Glutamat
  11. Kasein/gelatin
  12. NaNO2 5%
  13. HCl 5%

VI. Prosedur Kerja

6.1 Koagulasi Protein
  1. Disiapkan tabung reaksi bersih sebanyak 5 buah, masing-masing diisi dengan 2 ml larutan albumin 5 %
  2. Pada tabung 1 dilakukan pemanasan perlahan dengan api kecil, lalu dicatat suhu ketika protein mulai berkoagulasi. Pada tabung 2 ditambahkan 4 ml etanol dan HCl pekat. Pada tabung 3 ditambahkan HCl pekat, pada tabung 4 dimasukkan beberapa tetes HNO3 pekat, dan pada tabung 5 ditambahkan beberapa tetes NaOH pekat.
  3. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi pada setiap tabung dan bandingkan hasilnya.
6.2 Pengendapan Protein dan Kation
  1. Disiapkan tabung reaksi bersih sebanyak 5 buah. Pada tabung 1 diisi dengan 5 ml air, pada tabung 2 diisi dengan larutan albumin 5%, pada tabung 3 diisi 5 ml air dan 4 tetes HCl 10%, pada tabung 4 diisi 5 ml larutan albumin 10% dan 4 tetes HCl 10%, pada tabung 5 diisi dengan 5 ml air dan 4 tetes NaOH 10%. Lalu pada tabung terakhir diisi dengan 5ml albumin 10% tetes dan 4 tetes NaOH 10%.
  2. Dimasukkan 2 ml larutan CuSO4 10% pada masing-masing tabung.
  3. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi pada setiap tabung
6.3 Pengaruh Logam Berat pada Protein dan Larutan Asam Amino
  1. Dicampurkan beberapa tetes larutan AgNO3 1% dengan 1 ml dari albumin telur, gelatin, dan larutan asam glutamate pada tabung berbeda
  2. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi pada setiap tabung

6.4 Reaksi Warna Biuret untuk Protein
  1. Dimasukkan 1 ml larutan albumin 5 % kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 1 ml larutan NaOH 10%. Kemudian ditambahkan 1 tetes larutan CuSO4 1%.
  2. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi pada setiap tabung
6.5 Reaksi Xanthoproteat dengan Protein
  1. Dimasukkan sejumlah kecil serbuk kasein/gelatin kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 1 ml HNO3 pekat dan dipanaskan secara perlahan.
  2. Diamati dan dicatat perubahan yang terjadi pada setiap tabung

PERMASALAHAN
  1. Mengapa perlu ditambahkan albumin pada Prosedur Koagulasi Protein?
  2. Mengapa harus dihindari kelebihan CuSO4?
  3. Mengapa penuangan HNO3 pekat pada reaksi Xanthoproteat dilakukan secara perlahan?

Komentar

  1. 2. Karena jika CUSO4 berlebihan maka akan terbentuk warna yang lebih pekat dan adanya atau terbentuk garam amonium

    BalasHapus
  2. Denora Situmorang (056)
    karena albumim merupakan salah satu sampel yang memiliki kandungan protein yang dapat digunakan dalam percobaan ini.

    BalasHapus
  3. Baiklah saya akan menjawab nomor 3.menurut saya agar reaksi yg terjadi sempurna dan tidak terdesak dalam penghomogenan...terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LAPORAN PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ASAM BENZOAT DAN BENZIL ALKOHOL

LAPORAN ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (FLAVONOID)

LAPORAN PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ESTER METIL SALISILAT (MINYAK GANDAPURA)